Review Film Perahu Kertas. Film Perahu Kertas yang rilis pada 2012 kembali hangat dibicarakan di awal 2026. Adaptasi novel bestseller karya Dewi Lestari ini sering ditayangkan ulang di platform digital, terutama setelah pengumuman adaptasi baru menjadi serial dan musikal panggung yang dijadwalkan tayang sepanjang tahun ini. Kisah romansa anak muda antara Kugy dan Keenan ini sukses besar saat pertama kali rilis, dengan total penonton mencapai ratusan ribu orang untuk dua bagian filmnya. Hingga kini, karya ini tetap digemari karena nuansa mimpi, persahabatan, dan cinta yang relatable bagi generasi muda. BERITA BASKET
Plot dan Karakter Utama: Review Film Perahu Kertas
Cerita mengikuti Kugy, gadis periang dan imajinatif yang percaya dirinya agen Dewa Neptunus, dengan ritual unik melipat curhatan hati menjadi perahu kertas lalu dihanyutkan. Ia bertemu Keenan, pemuda berbakat melukis yang pulang dari Belanda dan terpaksa kuliah ekonomi demi keluarga. Pertemuan mereka melalui sahabat memicu perasaan saling kagum, tapi diwarnai konflik mimpi versus realitas, serta kehadiran karakter seperti Remi yang setia mendampingi Kugy.
Maudy Ayunda memerankan Kugy dengan energi ceria dan eksentrik yang pas, sementara Adipati Dolken sebagai Keenan membawa nuansa pendiam tapi penuh gairah seni. Karakter pendukung seperti Reza Rahadian sebagai Remi, Sylvia Fully sebagai Noni, dan Fauzan Smith sebagai Eko menambah warna persahabatan dan humor. Chemistry antar pemain terasa alami, membuat penonton ikut terbawa emosi pasang surut hubungan mereka.
Elemen Visual dan Nostalgia: Review Film Perahu Kertas
Perahu Kertas menonjol dengan sinematografi indah yang menangkap lokasi Bandung dan pantai, serta nuansa era akhir 1990-an hingga awal 2000-an. Ritual perahu kertas menjadi simbol kuat tentang mimpi yang mengalir bebas, dipadukan musik soundtrack menyentuh yang memperkuat adegan emosional. Film dibagi dua bagian untuk mengakomodasi kedalaman novel, membuat alur terasa mengalir seperti dongeng romantis tapi tetap grounded.
Disutradarai Hanung Bramantyo, karya ini berhasil menyajikan visual poetis yang mendukung tema pergulatan batin anak muda: mengejar passion seni versus tuntutan keluarga dan masyarakat. Elemen nostalgia ini membuat film timeless, mudah diterima penonton yang merindukan cerita cinta polos tanpa drama berlebih.
Kelebihan dan Kritik
Film ini dipuji karena kesetiaan pada novel, performa aktor muda yang segar, serta pesan inspiratif tentang keberanian bermimpi. Banyak penonton terhanyut dengan adegan manis dan konflik realistis, ditambah humor ringan dari karakter pendukung. Kesuksesan komersial saat rilis membuktikan daya tariknya sebagai romansa berkualitas.
Namun, beberapa kritik menyebut chemistry utama kadang kurang kuat, serta penyederhanaan plot yang membuat kedalaman psikologis novel agak hilang karena keterbatasan durasi. Bagian kedua dinilai lebih baik dalam mengikat emosi, tapi secara keseluruhan ada yang merasa cerita terlalu idealis seperti dongeng.
Kesimpulan
Perahu Kertas tetap jadi ikon romansa Indonesia yang menyentuh hati, apalagi dengan adaptasi baru di 2026 yang membawa napas segar. Kisah Kugy dan Keenan mengingatkan bahwa mimpi seperti perahu kertas—harus dihanyutkan meski tak tahu ke mana akhirnya. Dengan visual indah, akting memikat, dan pesan abadi tentang cinta serta passion, film ini layak ditonton ulang untuk merasakan kembali kehangatan anak muda mengejar impian. Secara keseluruhan, ini adalah karya klasik yang berhasil menyeimbangkan fantasi dan realitas dengan manis.

