Review Film The Fault in Our Stars. Film The Fault in Our Stars (2014) tetap menjadi salah satu drama romansa remaja yang paling sering ditonton ulang dan dibahas hingga hari ini. Diadaptasi dari novel John Green dengan arahan Josh Boone, film ini mengisahkan Hazel Grace Lancaster dan Augustus Waters, dua remaja penderita kanker yang bertemu di kelompok dukungan dan jatuh cinta di tengah keterbatasan fisik serta bayang-bayang kematian. Dibintangi Shailene Woodley dan Ansel Elgort, film ini berhasil menyentuh jutaan penonton dengan perpaduan antara humor cerdas, emosi mentah, dan realisme tentang hidup dengan penyakit kronis. Meski sudah berusia lebih dari satu dekade, The Fault in Our Stars masih relevan karena berhasil mengangkat tema cinta, kehilangan, dan makna hidup tanpa terjebak dalam sentimentalitas berlebihan. Artikel ini akan meninjau kembali kekuatan serta kelemahan film ini sebagai karya yang masih layak disaksikan kembali. BERITA TERKINI
Kisah Cinta yang Tulus dan Realistis: Review Film The Fault in Our Stars
Salah satu kekuatan terbesar The Fault in Our Stars adalah cara ia menggambarkan cinta remaja yang sangat tulus tanpa terasa klise. Hazel dan Gus bukan pasangan sempurna yang sehat dan berlari di pantai—mereka adalah dua orang yang sadar tubuh mereka sedang “gagal” dan waktu mereka terbatas. Pertemuan pertama di kelompok dukungan, perjalanan ke Amsterdam, dan momen-momen intim di antara pengobatan serta kunjungan rumah sakit terasa sangat autentik.
Film ini tidak menghindari realitas kanker: batuk darah, tabung oksigen, kemoterapi, dan rasa sakit fisik ditampilkan dengan jujur tapi tidak berlebihan. Romansa mereka tumbuh dari pemahaman bersama atas rasa sakit itu—bukan dari penampilan fisik atau drama remaja biasa. Dialog yang cerdas dan penuh referensi sastra (terutama novel fiksi dalam cerita, An Imperial Affliction) membuat hubungan mereka terasa lebih dalam daripada sekadar “cinta remaja sakit”. Adegan di Amsterdam—terutama momen di Anne Frank House dan pidato Gus—menjadi puncak emosional yang sangat mengena karena menggabungkan humor, kerentanan, dan kesedihan dalam satu napas.
Penampilan Aktor dan Penggambaran Penyakit yang Sensitif: Review Film The Fault in Our Stars
Shailene Woodley memberikan penampilan terbaik dalam kariernya sebagai Hazel—gadis sarkastik, cerdas, dan sangat sadar akan kematian yang mengintai. Ia berhasil menunjukkan kekuatan sekaligus kerapuhan tanpa pernah terlihat lemah atau berlebihan. Ansel Elgort sebagai Gus membawa karisma yang tepat: karismatik, sedikit arogan, tapi sangat tulus di balik semua itu. Chemistry keduanya terasa alami, terutama di adegan-adegan ketika mereka saling mendukung melalui rasa sakit masing-masing.
Laura Dern dan Sam Trammell sebagai orang tua Hazel juga tampil sangat meyakinkan, menunjukkan sisi orang tua yang berjuang antara ingin melindungi anak dan harus menerima kenyataan. Penggambaran kanker dilakukan dengan sensitif: film tidak mempercantik penyakit, tapi juga tidak menjadikannya eksploitasi emosi. Rutinitas medis, efek samping pengobatan, dan ketakutan akan kematian ditampilkan secara realistis tanpa berlama-lama di adegan penderitaan. Hal ini membuat film terasa hormat terhadap pengalaman penderita kanker sekaligus mudah diakses oleh penonton umum.
Kelemahan Naratif dan Dampak Emosional yang Bertahan
Meski sangat kuat secara emosional, film ini memiliki beberapa kelemahan yang terasa bagi penonton kritis. Beberapa dialog terasa terlalu puitis atau terlalu “bijak” untuk remaja berusia 16–17 tahun, terutama pidato Gus yang ikonik. Bagian Amsterdam kadang terasa seperti tur wisata romantis yang sedikit memaksa, dan ending yang sangat tragis bisa terasa manipulatif bagi sebagian penonton meski bagi yang lain justru itulah yang membuat film ini begitu mengena.
Namun, dampak emosional film ini tetap sangat bertahan lama. Banyak penonton melaporkan menangis tersedu-sedu di bioskop atau di rumah, terutama di adegan akhir yang sangat kuat. Film ini berhasil menyampaikan pesan bahwa hidup dengan penyakit kronis bukan berarti hidup tanpa cinta, tanpa mimpi, atau tanpa kebahagiaan—bahwa bahkan ketika waktu terbatas, cinta bisa memberi makna yang sangat besar. Pesan itu masih sangat relevan hingga kini, terutama bagi generasi muda yang menghadapi berbagai tantangan kesehatan dan emosional.
Kesimpulan
The Fault in Our Stars tetap menjadi salah satu film romansa remaja terbaik yang pernah dibuat, terutama karena berhasil menggabungkan cerita cinta yang tulus dengan realitas penyakit kronis yang jarang diangkat secara serius di genre ini. Penampilan luar biasa dari Shailene Woodley dan Ansel Elgort, arahan Josh Boone yang sensitif, serta narasi yang berani menunjukkan sisi gelap tanpa kehilangan harapan membuat film ini lebih dari sekadar tearjerker—ia adalah pengingat bahwa hidup sangat singkat, dan kadang cinta paling berarti adalah yang memberi kita alasan untuk tetap bertahan meski keadaan terasa mustahil.
Di tahun 2026, ketika banyak film romansa modern lebih mengandalkan formula cepat atau visual mewah, The Fault in Our Stars mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah cerita cinta terletak pada kejujuran emosi, keberanian untuk menunjukkan kerapuhan manusia, dan akhir yang tidak selalu manis tapi sangat nyata. Bagi siapa pun yang belum menonton atau ingin menonton ulang, film ini masih sangat layak—sebuah karya yang tidak hanya menghibur, tapi juga meninggalkan bekas yang lama di hati. Jika Anda mencari film yang membuat Anda menangis, berpikir, dan akhirnya menghargai setiap detik hidup, The Fault in Our Stars adalah jawabannya.
