review-film-evangelion

Review Film Evangelion

Review Film Evangelion. Evangelion: 3.0+1.0 Thrice Upon a Time, film penutup tetralogi Rebuild of Evangelion karya Hideaki Anno, masih menjadi salah satu rilisan anime paling dibicarakan hingga awal 2026 meski sudah tayang sejak 2021. Film berdurasi 155 menit ini menyelesaikan kisah Shinji Ikari yang berjuang melawan takdir, trauma, dan makna hidup di tengah akhir dunia yang berulang. Dengan rating Rotten Tomatoes 91% dari kritikus dan 89% dari penonton, serta box office global mencapai lebih dari US$150 juta (termasuk penayangan ulang dan rilis streaming), film ini berhasil jadi penutup yang sangat emosional bagi penggemar lama. Banyak yang menyebutnya sebagai salah satu akhir seri anime paling memuaskan dan penuh makna. Apakah film ini benar-benar penutup epik yang layak untuk warisan Evangelion, atau malah terasa terlalu panjang dan berat? INFO CASINO

Visual dan Animasi yang Luar Biasa di Film Evangelion 3.0+1.0

Studio Khara menunjukkan puncak kemampuan mereka dalam film ini. Adegan pertarungan akhir melawan Evangelion Unit-13 dan Mass Production Evas terasa sangat megah—animasi 2D dan 3D digabungkan dengan mulus, efek ledakan, cahaya, dan partikel sangat detail. Transisi dari dunia nyata ke Anti-Universe (dimensi akhir) dibuat dengan sangat indah dan psikadelis—warna-warna cerah, bentuk abstrak, dan simbolisme yang kental membuat penonton terpukau. Adegan “real world” di desa terpencil juga sangat hidup—rumah kayu, sawah hijau, dan langit biru yang kontras dengan kekacauan sebelumnya terasa seperti napas lega setelah perang panjang. Musik Shiro Sagisu dan lagu-lagu klasik seperti “Fly Me to the Moon” versi baru serta “One Last Kiss” dari Hikaru Utada menjadi pendukung emosional yang sangat kuat—setiap nada terasa menyayat hati.

Performa Pengisi Suara dan Emosi Karakter Evangelion 3.0+1.0

Megumi Ogata sebagai Shinji Ikari memberikan penampilan paling emosional sepanjang seri—suara Shinji yang bergetar saat menghadapi trauma masa kecil dan saat ia akhirnya memilih untuk “hidup” terasa sangat menyentuh. Yuko Miyamura sebagai Asuka Langley Soryu juga tampil sangat kuat—karakternya lebih dewasa, penuh luka, tapi tetap punya sisi keras kepala yang ikonik. Megumi Hayashibara sebagai Rei Ayanami dan Kotono Mitsuishi sebagai Misato Katsuragi juga memberikan penampilan terbaik mereka—momen-momen perpisahan dan pengakuan terasa sangat tulus dan menyakitkan. Secara keseluruhan, pengisi suara berhasil membawa rasa penutupan yang sangat emosional bagi karakter-karakter yang sudah menemani penggemar selama puluhan tahun.

Kelemahan Pacing dan Penutupan

Meski sangat kuat secara emosional dan visual, film ini punya kelemahan di pacing yang agak lambat di babak tengah. Setelah adegan pertarungan epik, bagian “real world” di desa terasa terlalu panjang dan penuh dialog reflektif yang kadang terasa bertele-tele. Banyak penonton merasa bagian akhir terlalu filosofis dan kurang memberikan “aksi besar” yang diharapkan dari klimaks Evangelion. Endingnya sangat terbuka dan meta—Anno memilih memberikan penutupan yang sangat personal dan tidak konvensional, yang bagi sebagian penggemar terasa sangat memuaskan dan menyembuhkan, tapi bagi yang lain terasa kurang memuaskan dan terlalu abstrak. Bagi penggemar lama yang mengharapkan akhir yang lebih “heroik” atau penjelasan lengkap tentang lore, film ini bisa terasa kurang lengkap.

Respon Penonton dan Dampak: Review Film Evangelion

Penonton Indonesia yang sudah mengikuti Evangelion sejak lama menyambut sangat emosional—banyak yang menonton di bioskop sambil menangis dan berbagi cerita pribadi di media sosial. Box office domestik melewati 1,5 juta penonton, sementara global US$150 juta menunjukkan sukses komersial yang solid untuk film anime panjang. Di media sosial, klip adegan akhir dan monolog Shinji jadi viral. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal trauma, pilihan hidup, dan bagaimana seri seperti Evangelion bisa memberikan penutupan yang sangat personal bagi penggemar. Banyak yang bilang ini penutup yang layak untuk salah satu seri anime paling berpengaruh sepanjang masa.

Kesimpulan: Review Film Evangelion

Evangelion: 3.0+1.0 Thrice Upon a Time adalah penutup tetralogi Rebuild yang berhasil jadi sangat epik, emosional, dan penuh makna. Animasi ufotable yang memukau, performa suara cast yang luar biasa, dan pesan tentang hidup dan trauma yang sangat dalam membuat film ini layak disebut salah satu akhir seri anime terbaik sepanjang masa. Meski pacing tengah agak lambat dan ending sangat terbuka, film ini tetap jadi tontonan yang sangat memuaskan bagi penggemar. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu sudah menonton seluruh seri Evangelion. Kalau suka Neon Genesis Evangelion, End of Evangelion, atau anime emosional seperti Your Name, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan tisu untuk momen akhir yang mengharukan. Hideaki Anno berhasil menutup cerita Evangelion dengan cara yang sangat pribadi dan menyentuh—dan itulah yang membuatnya spesial. Film ini layak dapat tempat spesial di daftar tontonan anime 2025–2026.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *