Review Film Hamnet: Kisah Cinta Shakespeare yang Tragis

Review Film Hamnet: Kisah Cinta Shakespeare yang Tragis

Review Film Hamnet: Kisah Cinta Shakespeare yang Tragis. Tahun 2026 membawa angin segar bagi penggemar drama sejarah dan sastra ketika film Hamnet akhirnya tiba di layar lebar setelah proses adaptasi panjang. Diangkat dari novel terlaris Maggie O’Farrell yang terbit tahun 2020, film ini menceritakan kisah cinta dan kehilangan yang sangat pribadi di balik karya terbesar William Shakespeare—sebuah tragedi yang mengubah hidup sang penyair selamanya. Disutradarai oleh Chloé Zhao dengan sentuhan yang lembut namun penuh kekuatan emosional, Hamnet tayang perdana di festival film besar awal tahun ini dan langsung mendapat sambutan hangat. Dengan durasi sekitar 128 menit, film ini tidak berusaha menceritakan kehidupan Shakespeare secara keseluruhan, melainkan fokus pada satu bab yang paling menyakitkan: kematian putranya yang berusia sebelas tahun, Hamnet, dan bagaimana kehilangan itu melahirkan masterpiece Hamlet. Hasilnya adalah drama yang intim, indah, dan mengharukan, yang berhasil membuat penonton merasakan Shakespeare bukan sebagai legenda, melainkan manusia biasa yang rapuh. REVIEW KOMIK

Sinopsis dan Latar Sejarah: Review Film Hamnet: Kisah Cinta Shakespeare yang Tragis

Hamnet mengambil latar akhir abad ke-16 di Stratford-upon-Avon, tempat William Shakespeare (diperankan oleh Paul Mescal) dan istrinya Anne Hathaway (Jessie Buckley) menjalani kehidupan keluarga sederhana. Cerita dimulai dari kehamilan Anne dengan anak kembil—Hamnet dan Judith—dan perlahan memperlihatkan dinamika rumah tangga mereka yang penuh kasih sayang namun juga tekanan. William sering bepergian ke London untuk mengejar karier teater, meninggalkan Anne mengurus rumah dan anak-anak sendirian.
Ketika wabah pes menyerang wilayah sekitar, Hamnet jatuh sakit parah. Anne berjuang mati-matian mencari pertolongan, sementara William sedang berada di London dan tidak sempat pulang tepat waktu. Kematian Hamnet menjadi titik balik yang menghancurkan. Film ini dengan cerdas tidak menjadikan Shakespeare sebagai tokoh utama yang mendominasi; justru Anne Hathaway digambarkan sebagai sosok yang paling kuat dan paling terluka. Kehilangan anak itu tidak hanya meninggalkan luka mendalam pada pasangan ini, tapi juga menjadi benih dari tragedi Hamlet yang kemudian ditulis William bertahun-tahun kemudian—sebuah karya yang penuh dengan duka, pertanyaan tentang kematian, dan rasa bersalah.

Performa Aktor dan Pengarahan: Review Film Hamnet: Kisah Cinta Shakespeare yang Tragis

Paul Mescal menghadirkan Shakespeare yang jauh dari citra romantis berjubah panjang. Ia memerankan seorang pemuda ambisius yang penuh semangat, namun juga ayah yang tidak sempurna—seseorang yang terpecah antara keluarga dan panggilan seni. Matanya yang sering kali redup dan gerak tubuhnya yang gelisah berhasil menyampaikan konflik batin tanpa perlu dialog berlebihan.
Namun sorotan terbesar jatuh pada Jessie Buckley sebagai Anne Hathaway. Penampilannya luar biasa—penuh kekuatan, kerapuhan, dan kemarahan yang terpendam. Buckley mampu membuat penonton ikut merasakan setiap detik keputusasaan Anne ketika menyadari anaknya tidak akan selamat. Chemistry antara Mescal dan Buckley terasa sangat nyata, terutama pada adegan-adegan sunyi setelah kematian Hamnet, di mana mereka berdua hampir tidak bicara namun saling memahami dalam kehancuran yang sama.
Chloé Zhao membawa pendekatan khasnya yang minimalis namun sangat emosional. Penggunaan cahaya alami, pengambilan gambar long take di pedesaan Inggris abad ke-16, serta minimnya musik latar yang bombastis membuat film ini terasa seperti lukisan hidup. Zhao juga pintar memilih momen-momen kecil yang menyayat hati—seperti Anne menatap tempat tidur kosong Hamnet, atau William menulis di kertas yang akhirnya menjadi naskah Hamlet—tanpa perlu penjelasan panjang lebar.

Visual, Suara, dan Nuansa Emosional

Dari segi sinematografi, Hamnet adalah salah satu film paling indah tahun ini. Pemandangan pedesaan Inggris yang hijau, rumah kayu sederhana, dan pasar desa kecil direkam dengan warna-warna lembut yang kontras dengan kegelapan emosional cerita. Setiap frame terasa seperti potret keluarga yang rapuh, seolah-olah kita sedang melihat album foto yang hilang dari Shakespeare.
Desain produksi juga patut dipuji. Kostum, properti, dan detail rumah tangga era Elizabethan digarap dengan teliti tanpa terasa berlebihan. Musiknya—yang sebagian besar hanya berupa suara alam, derak kayu, dan hembusan angin—membuat keheningan terasa sangat berarti. Saat akhirnya ada komposisi orkestra yang muncul di klimaks, efeknya menjadi sangat kuat karena penonton sudah terbiasa dengan kesunyian.
Film ini tidak menghindari kesedihan, tapi juga tidak menjadikannya melodrama murahan. Ada momen-momen kecil kehangatan keluarga, tawa anak-anak, dan kelembutan pasangan yang membuat tragedi yang datang terasa jauh lebih menyakitkan. Penonton diajak merasakan bahwa kehilangan Hamnet bukan hanya akhir dari seorang anak, tapi juga awal dari sesuatu yang besar dalam dunia sastra.

Kesimpulan

Hamnet adalah film yang berhasil menggabungkan kedalaman sejarah dengan emosi yang sangat manusiawi. Tanpa perlu menampilkan panggung teater besar atau adegan penulisan dramatis di London, film ini mampu membuat kita memahami dari mana datangnya kegelapan dalam karya-karya Shakespeare. Performa luar biasa Jessie Buckley dan Paul Mescal, ditambah pengarahan sensitif Chloé Zhao, menjadikan Hamnet sebagai salah satu drama sejarah terbaik dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi penonton yang menyukai kisah cinta yang tidak sempurna, duka yang mendalam, dan penghormatan kepada sastra tanpa terasa menggurui, film ini adalah pengalaman yang sangat berarti. Hamnet bukan sekadar cerita tentang bagaimana sebuah tragedi melahirkan karya besar—ia juga pengingat bahwa di balik setiap masterpiece besar, hampir selalu ada luka pribadi yang tak pernah benar-benar sembuh.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *