Review Film The Boy and the Heron: Petualangan Emosional

Review Film The Boy and the Heron: Petualangan Emosional

Review Film The Boy and the Heron: Petualangan Emosional. The Boy and the Heron (Kimitachi wa Dō Ikiru ka, 2023) karya Hayao Miyazaki tetap menjadi salah satu karya animasi paling menyentuh dan penuh lapisan hingga kini. Film ini menjadi pemenang Oscar Film Animasi Terbaik 2024 dan Golden Globe Film Animasi Terbaik, sekaligus dianggap sebagai salah satu karya penutup Miyazaki yang paling pribadi. Cerita mengikuti Mahito Maki—seorang anak laki-laki yang kehilangan ibunya akibat serangan udara Perang Dunia II—yang memasuki dunia paralel misterius setelah bertemu burung heron berbicara. Dengan visual yang memukau, narasi yang penuh simbolisme, dan emosi yang dalam, film ini bukan sekadar petualangan fantasi—ini adalah refleksi tentang duka, penerimaan kehilangan, dan pencarian makna hidup di tengah kekacauan perang. BERITA BASKET

Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film The Boy and the Heron: Petualangan Emosional

Mahito Maki, bocah 12 tahun, kehilangan ibunya dalam kebakaran akibat serangan udara Tokyo. Ayahnya menikah lagi dengan adik ibunya, Natsuko, dan mereka pindah ke pedesaan. Mahito kesulitan menerima kehadiran ibu tiri dan kehilangan yang masih membekas. Suatu hari ia bertemu burung heron abu-abu yang bisa berbicara dan mengaku tahu keberadaan ibunya. Heron itu membawanya masuk ke menara tua yang menjadi pintu menuju dunia paralel penuh makhluk aneh: blok bangunan hidup, burung parkit raksasa, dan kakek misterius yang mengendalikan dunia itu.
Perjalanan Mahito di dunia paralel penuh simbolisme: ia bertemu saudara tiri yang belum lahir, melihat kenangan ibunya, dan belajar bahwa dunia itu rapuh dan bisa hancur jika keseimbangan tidak dijaga. Alur bergerak lambat tapi penuh makna, dengan banyak elemen mimpi dan metafora tentang siklus hidup, kematian, dan regenerasi. Tidak ada villain klasik—hanya konflik batin Mahito dan pertanyaan besar tentang bagaimana menerima kehilangan serta melanjutkan hidup.

Performa Pengisi Suara dan Produksi: Review Film The Boy and the Heron: Petualangan Emosional

Dalam versi Jepang asli, Soma Santoki memberikan suara Mahito yang penuh kerapuhan dan kekuatan batin, sementara Masaki Suda sebagai burung heron membawa nada licik tapi juga bijak. Dalam versi dubbing Inggris, Luca Padovan sebagai Mahito dan Robert Pattinson sebagai heron juga sangat kuat—Pattinson memberikan suara yang unik, misterius, dan sedikit sarkastik.
Produksi Studio Ghibli terasa seperti lukisan bergerak: animasi tangan yang detail, warna-warni lembut namun dramatis, dan desain makhluk fantastis yang penuh imajinasi. Musik Joe Hisaishi—dengan melodi piano yang melankolis dan orkestra yang megah—menjadi salah satu soundtrack paling emosional dalam film Miyazaki. Setiap frame terasa seperti mimpi yang hidup, dengan transisi antara dunia nyata dan paralel yang mulus dan penuh keajaiban.

Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan terbesar The Boy and the Heron adalah kedalaman emosionalnya yang jarang ditemui di film animasi. Miyazaki berhasil menyatukan fantasi epik dengan tema duka dan penyembuhan tanpa terasa berat atau menggurui. Visual yang memukau dan simbolisme yang kaya membuat setiap penonton bisa menemukan makna sendiri—ada yang melihatnya sebagai alegori kehilangan orang tua, ada yang melihatnya sebagai refleksi masa perang Miyazaki sendiri. Adegan-adegan seperti Mahito bertemu ibunya di dunia lain atau momen akhir ketika ia memilih “hidup” menjadi sangat menyentuh dan penuh harapan.
Di sisi lain, alur yang non-linear dan banyak simbolisme mungkin terasa membingungkan bagi penonton yang mencari cerita lurus. Beberapa subplot (terutama tentang dunia paralel) terasa agak abstrak dan kurang dijelaskan. Pace film yang lambat di bagian tengah juga bisa terasa berat bagi sebagian penonton. Namun justru kekuatan itu terletak pada kesabaran narasinya—seperti proses duka yang tidak pernah cepat.

Kesimpulan

The Boy and the Heron adalah karya masterpiece yang penuh keajaiban dan kesedihan—mengisahkan petualangan emosional seorang anak yang kehilangan dengan cara yang sangat pribadi dan mendalam. Visual memukau, musik menyayat hati, dan narasi simbolis membuat film ini terasa seperti mimpi yang indah sekaligus pilu. Hayao Miyazaki sekali lagi membuktikan bahwa animasi bisa menyampaikan emosi dewasa dengan kepekaan luar biasa. Bagi penggemar animasi, drama keluarga, atau siapa saja yang pernah mengalami duka kehilangan, The Boy and the Heron sangat layak ditonton ulang. Ini bukan tentang petualangan heroik—ini tentang bagaimana menerima kehilangan, memilih hidup, dan menemukan makna baru di tengah dunia yang rapuh. Salah satu karya terakhir Miyazaki yang paling intim dan paling menyentuh.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *