Review Film Terbaru Berjudul Tentang Now You See Me. Akhir November 2025 menyuguhkan trik sulap yang tak terlupakan di layar lebar: Now You See Me: Now You Don’t, sekuel ketiga dari franchise ilusionis penipu yang memukau sejak 2013. Dirilis pada 14 November, film berdurasi 114 menit ini disutradarai Ruben Fleischer dan langsung meraup 187 juta dolar secara global dalam dua minggu pertama, meski ulasan campur aduk dengan skor 6.2 di situs film populer. Kisahnya melanjutkan petualangan Four Horsemen—J. Daniel Atlas, Merritt McKinney, Jack Wilder, Henley Reeves, dan Lula—yang kini direkrut Eye misterius untuk heist terbesar: membongkar jaringan korupsi global yang melibatkan teknologi sulap canggih.
Dengan campuran aksi cepat, twist tak terduga, dan pesan tentang ilusi kekuasaan, film ini tayang perdana di Amsterdam pada 11 November, memicu perdebatan apakah ia setajam prekuelnya atau sekadar trik lama yang diulang. Penonton awal memuji energi cast lama, tapi kritik soal plot yang terlalu ramai. Apakah ini sulap yang bikin takjub, atau ilusi yang pudar? Mari kita uraikan langkah demi langkah.
Alur Cerita Film Now You See Me yang Penuh Trik Tapi Ramai
Cerita dimulai dengan pensiun Horsemen yang terganggu saat Eye memanggil mereka untuk misi baru: menargetkan miliarder tech yang gunakan AI untuk manipulasi pasar. Mereka rekrut pemula—seperti Charlie yang jenius hacking dan Bosco si pemuda berbakat—untuk eksekusi heist di Las Vegas, di mana ilusi hologram campur penipuan fisik jadi senjata utama. Plot berlapis dengan pengkhianatan internal dan balas dendam dari musuh lama, membangun ke klimaks pertunjukan global di mana seluruh dunia jadi panggung.
Alur ini cerdas dalam twist-nya, seperti pengungkapan identitas musuh yang terasa segar, tapi sering terasa overcrowded dengan sembilan anggota tim yang bikin fokus buyar. Durasi panjangnya beri ruang untuk setup rumit, mirip film pertama yang lincah, tapi pacing tengah melambat saat jelaskan lore Eye. Mid-credit scene bahkan siapkan benih sekuel keempat, janjikan petualangan lebih besar. Meski begitu, elemen heist tetap adiktif—setiap trik terasa seperti teka-teki yang bikin penonton ikut menebak, walau akhirnya prediktabel bagi penggemar genre.
Penampilan Aktor Now You See Me yang Menyihir Kembali
Cast lama bangkit dengan pesona abadi, membuat Horsemen terasa seperti keluarga reunian yang chaos tapi menyenangkan. Jesse Eisenberg sebagai Atlas tetap sarkastik dan brilian, ekspresinya saat rencanakan trik bikin tawa meledak. Woody Harrelson sebagai Merritt curi scene lagi dengan humor hipnotisnya yang absurd, terutama banter dengan Jack Wilder yang dimainkan Dave Franco—duo ini chemistry-nya seperti api unggun yang tak padam. Isla Fisher kembali sebagai Henley dengan karisma tak tergantikan, gerakannya lincah di adegan sulap air yang ikonik, sementara Lizzy Caplan sebagai Lula tambah edge liar yang hilang di film kedua.
Pendatang baru beri angin segar: Justice Smith sebagai Charlie hacker penuh semangat, tatapannya campur gugup dan pintar bikin relatable. Rosamund Pike sebagai antagonis misterius Pike—mantan Eye yang jatuh—curi perhatian dengan aura dingin yang manipulatif, dialognya tajam seperti pisau sulap. Dominic Sessa sebagai Bosco pemula dan Ariana Greenblatt sebagai asisten tech tambah dinamika muda, meski peran mereka kadang terpinggir. Morgan Freeman sebagai narator tetap jadi jangkar, suaranya yang dalam bingkai cerita dengan ironis. Secara keseluruhan, ensemble ini solid, tapi keramaian tim bikin spotlight terbagi, kurangi impact individu.
Visual dan Suara yang Memukau Tapi Berlebihan
Secara teknis, film ini pesta ilusi yang bikin mata tak berkedip: efek CGI hologram dan LED di panggung Las Vegas terasa revolusioner, dengan trik seperti menghilang gedung yang seamless dan dinamis. Sinematografi tangkap esensi sulap—cahaya neon berkedip, bayang-bayang dramatis, dan kamera cepat yang ikuti aksi seperti mata penonton. Lokasi syuting di Macau dan LA beri skala global, sementara desain kostum Horsemen—jas ramping campur gadget tersembunyi—tambah gaya.
Skor Brian Tyler, yang kembali dari dua film sebelumnya, membengkak epik di momen heist, campur beat elektronik dengan orkestra klasik untuk nuansa misterius. Efek suara—letupan confetti, deru kerumunan, dan bisik sulap—tambah imersif, bikin teater terasa seperti pertunjukan live. Tapi, overload visual di klimaks kadang bikin pusing, seperti trik bertumpuk yang kurangi kejutan. Editing tajam jaga ritme, meski beberapa transisi terasa gimmick. Produksi ini bukti ambisi: bukan sekadar film, tapi pengalaman sensorik yang ingatkan kenapa franchise ini hits.
Kesimpulan
Now You See Me: Now You Don’t berhasil hidupkan kembali trik Horsemen dengan energi segar, meski plot ramai dan twist forced bikin ia tak setajam prekuelnya—skor 6.2 bukti campuran yang adil, penuh pesona cast tapi kurang inovasi. Dengan alur heist yang adiktif, penampilan menyihir, dan visual memukau, film ini tetap hiburan ringan bagi penggemar sulap layar lebar, walau terasa seperti trik ulang yang butuh lebih banyak keajaiban.
Bagi yang rindu petualangan ilusionis, ini layak tonton di teater untuk efek maksimal—ia ingatkan bahwa di balik gemerlap, sulap terbaik ada pada chemistry dan kejutan kecil. Saat kredit bergulir, sisa rasa puas campur harap: semoga sekuel keempat bawa ilusi baru yang benar-benar hilangkan napas. Sukses box office awalnya janjikan masa depan cerah untuk franchise yang tak mau pensiun.

