Review Film Pele: Birth of a Legend. Film Pele: Birth of a Legend yang dirilis pada 2016 tetap menjadi salah satu biografi olahraga paling inspiratif hingga akhir 2025, sering direkomendasikan bagi penggemar sepak bola dan cerita underdog. Disutradarai oleh Jeff dan Michael Zimbalist, film ini menceritakan perjalanan awal Pele, dari anak miskin di Brasil hingga jadi bintang Piala Dunia 1958 di usia 17 tahun. Dengan fokus pada akar budaya Brasil dan gaya bermain “ginga” yang unik, Pele: Birth of a Legend berhasil tangkap semangat legenda hidup itu. Di era di mana sepak bola semakin global, film ini terasa relevan sebagai pengingat bahwa bakat besar bisa lahir dari kondisi paling sederhana. BERITA BOLA
Plot dan Rekonstruksi Perjalanan Awal Pele: Review Film Pele: Birth of a Legend
Cerita dimulai dari masa kecil Edson Arantes do Nascimento—nama asli Pele—di lingkungan miskin Brasil. Ia belajar sepak bola di jalanan dengan bola dari kain bekas, diajari ayahnya yang mantan pemain tentang pentingnya ginga, gaya bermain Brasil yang kreatif dan menipu lawan. Setelah bergabung dengan klub lokal Santos, Pele dipanggil ke tim nasional dan bawa Brasil juara Piala Dunia 1958 di Swedia, cetak gol ikonik di final.
Plot ini fokus pada tahun-tahun formatif, tunjukkan tekanan nasional setelah kekalahan memalukan Brasil di Piala Dunia 1950, serta bagaimana Pele jadi simbol harapan. Adegan pertandingan dibuat energik dengan koreografi realistis, meski bukan rekaman asli. Di 2025, narasi ini masih menggugah karena tekankan bahwa kesuksesan Pele bukan keberuntungan, tapi hasil latihan keras, kreativitas, dan dukungan keluarga di tengah kemiskinan.
Penampilan Aktor dan Representasi Budaya: Review Film Pele: Birth of a Legend
Pele muda diperankan oleh dua aktor: Kevin de Paula sebagai remaja dan Leonardo Lima Carvalho sebagai anak kecil—keduanya beri performa alami yang tangkap kepolosan dan determinasi Pele. Vincent D’Onofrio sebagai pelatih Feola dan Rodrigo Santoro sebagai manajer tim tambah nuansa dewasa. Cameo Pele sendiri di akhir film beri sentuhan autentik.
Film ini kuat representasikan budaya Brasil: musik samba, dansa, dan ginga sebagai filosofi hidup yang bebas tapi disiplin. Adegan latihan di pantai dan jalanan beri rasa autentik, sambil tunjukkan diskriminasi rasial dan kelas yang Pele hadapi. Meski ada kritik karena terlalu romantisasi, penampilan ensemble buat karakter terasa hidup dan relatable, terutama hubungan Pele dengan ayahnya yang penuh pelajaran bijak.
Produksi dan Pesan Inspiratif
Diproduksi dengan lokasi di Brasil, film ini tangkap keindahan Rio de Janeiro dan suasana era 1950-an dengan baik. Musik latar yang kental samba tambah energi, sementara adegan Piala Dunia 1958 rekreasi dengan detail tinggi—termasuk gol lob Pele yang legendaris. Sutradara pilih fokus pada aspek manusiawi daripada statistik karier panjang Pele, buat film lebih accessible bagi penonton non-penggemar sepak bola.
Pesan utama tentang ginga—bermain dengan hati, kreativitas, dan kegembiraan—jadi inspirasi timeless. Di akhir 2025, ketika sepak bola sering dikritik karena terlalu komersial, film ini ingatkan akar permainan yang indah. Meski box office sedang dan ada kritik karena simplifikasi sejarah, Pele: Birth of a Legend tetap dihargai karena semangat positifnya.
Kesimpulan
Pele: Birth of a Legend adalah biografi yang hangat dan menginspirasi, gabungkan plot coming-of-age dengan elemen budaya Brasil yang kaya. Dengan penampilan autentik, produksi indah, dan pesan tentang kreativitas serta ketabahan, film ini lebih dari sekadar cerita atlet—ia ode untuk mimpi besar dari latar kecil. Di 2025, film ini layak ditonton ulang sebagai pengingat bahwa legenda seperti Pele lahir dari ginga hidup yang penuh semangat. Bagi penggemar sepak bola atau cerita motivasi, Pele: Birth of a Legend tetap jadi pilihan menghibur yang penuh harapan dan kegembiraan.

