Review Film Buya Hamka: Biografi Ulama yang Inspiratif

Review Film Buya Hamka: Biografi Ulama yang Inspiratif

Review Film Buya Hamka: Biografi Ulama yang Inspiratif. Film “Buya Hamka” telah menjadi sorotan kembali di kalangan pecinta sinema Indonesia, terutama setelah trilogi biografinya terus dibahas dalam diskusi budaya dan agama hingga awal 2026. Sebagai biografi ulama legendaris Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang akrab disapa Buya Hamka, film ini tidak hanya menghibur tapi juga menginspirasi generasi muda untuk memahami perjuangan intelektual dan spiritual di masa lalu. Dirilis secara bertahap mulai 2023, seri ini menggambarkan kehidupan Buya Hamka dari masa kecil hingga peranannya sebagai tokoh nasionalis dan pemimpin Muhammadiyah. Dengan pendekatan yang hangat dan autentik, film ini berhasil menarik lebih dari satu juta penonton di bioskop, dan kini tersedia di platform streaming seperti Netflix, membuatnya tetap relevan di tengah arus konten digital. Review terkini menekankan bagaimana cerita ini menyentuh hati, meski ada catatan soal pacing yang kadang lambat, tapi secara keseluruhan, ini adalah potret yang menghormati sosok Buya sebagai manusia biasa dengan visi luar biasa. REVIEW FILM

Sinopsis dan Alur Cerita: Review Film Buya Hamka: Biografi Ulama yang Inspiratif

Trilogi “Buya Hamka” dibagi menjadi tiga volume yang saling melengkapi, menceritakan perjalanan hidup sang ulama dari berbagai fase. Volume 1 fokus pada masa dewasa awal Buya Hamka, dimulai dari perjuangannya melawan penjajah Belanda melalui tulisan subversifnya, hingga peranannya di era pendudukan Jepang dan pasca-kemerdekaan. Cerita dibuka dengan Buya yang sudah menikah dan tinggal jauh dari ayahnya yang uzur, menunjukkan konflik internal antara tugas keluarga dan panggilan dakwah. Alur bergulir cepat di paruh pertama, menggambarkan bagaimana ia menjadi pengurus Muhammadiyah di Makassar, berhadapan dengan tantangan politik dan sosial.
Volume 2, berjudul “Hamka & Siti Raham Vol. 2”, melanjutkan kisah pasca-kemerdekaan, di mana Buya Hamka berusaha menyatukan ulama dan militer di Sumatera Utara melawan agresi Belanda. Di sini, elemen romansa dengan istrinya, Siti Raham, menjadi pusat, menampilkan kesetiaan dan dukungan mutual yang membangkitkan kekuatan. Konfliknya kaya, termasuk perjuangan melawan penjajah dan isu internal seperti perceraian orang tua yang memengaruhi masa mudanya. Sementara Volume 3, yang masih dinanti rilisnya, akan menyoroti masa kecil Buya di Maninjau, Sumatera Barat, di mana minatnya pada sastra dan tradisi Minang tumbuh, meski sering bentrok dengan ayahnya, Haji Rasul. Secara keseluruhan, alur trilogi ini seperti puzzle yang menyusun gambaran lengkap: dari anak bandel yang abaikan pesantren, hingga pemimpin yang reformis di Mekkah, dan akhirnya tokoh nasional yang membangun Islam di Indonesia. Meski durasi masing-masing sekitar 100-110 menit, cerita terasa padat, meskipun beberapa subplot terasa kurang dieksplorasi, membuat penonton penasaran untuk lanjutan.

Akting dan Produksi: Review Film Buya Hamka: Biografi Ulama yang Inspiratif

Sutradara Fajar Bustomi, yang dikenal dari trilogi “Dilan”, berhasil membawa nuansa epik ke produksi ini, bekerja sama dengan Falcon Pictures dan Majelis Ulama Indonesia. Visualnya memukau, terutama penggambaran budaya Minang dan lanskap Sumatera, dengan sinematografi yang autentik dan penuh warna. Efek khusus minim, tapi rekonstruksi sejarah seperti agresi militer Belanda terasa hidup, didukung kostum dan set yang detail. Skor musiknya sederhana tapi menyentuh, menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern yang tidak mengganggu.
Akting menjadi kekuatan utama. Vino G. Bastian sebagai Buya Hamka tampil memukau, menangkap esensi sosok yang tegas tapi rentan. Ia nominasi Best Actor di Festival Film Indonesia 2023, berkat kemampuannya menyampaikan pidato dakwah yang menggetarkan tanpa terkesan berlebihan. Laudya Cynthia Bella sebagai Siti Raham juga brilian, membawa kedalaman emosional pada peran istri yang setia, membuat romansa terasa alami dan tidak klise. Pendukung seperti Anjasmara sebagai ayah Buya menambah lapisan konflik keluarga yang relatable. Meski ada kritik bahwa pacing di Volume 1 terasa lambat di bagian tengah, akting ensemble ini menyelamatkan, membuat film terasa hangat dan manusiawi. Produksi keseluruhan budget sekitar 4 juta dolar, tapi hasilnya sepadan, terbukti dari respons positif di bioskop dan streaming.

Pesan Inspiratif dan Dampak

Film ini bukan sekadar biografi, tapi sumber inspirasi yang kaya pesan. Buya Hamka digambarkan sebagai pemimpin yang mengajarkan bahwa cinta bukan melemahkan, tapi membangkitkan kekuatan—seperti hubungannya dengan Siti Raham yang jadi fondasi perjuangannya. Pesan leadership terlihat jelas: dari verbal seperti pidato dakwahnya, hingga non-verbal seperti keteguhannya melawan penjajah. Ia menekankan nasionalisme berbasis Islam, menyatukan ulama dan militer, serta reformasi seperti sistem manasik haji yang ia dapat di Mekkah. Bagi generasi muda, film ini mengingatkan pentingnya literasi dan organisasi, meski Buya kecil sering abaikan pendidikan formal demi sastra.
Dampaknya luas: trilogi ini membangkitkan minat pada sejarah Islam Indonesia, terutama di kalangan milenial. Di 2025-2026, diskusi online dan akademik meningkat, seperti analisis semiotic leadership di Volume 1. Film juga humanisasi tokoh suci, menunjukkan sisi romantis dan konflik pribadi, membuatnya relatable. Kritik minor soal oversimplification sejarah ada, tapi pesan utama tetap: perjuangan Buya untuk bangun Islam yang inklusif, anti-kolonial, dan penuh kasih. Ini membuat film tak lekang waktu, menginspirasi penonton untuk terapkan nilai-nilai itu di era digital.

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, “Buya Hamka” adalah biografi inspiratif yang berhasil gabungkan sejarah, romansa, dan dakwah tanpa terasa memaksa. Meski Volume 3 masih ditunggu, dua volume pertama sudah cukup buktikan kekuatannya sebagai karya sinema Indonesia yang bermakna. Dengan akting solid, produksi apik, dan pesan timeless, film ini layak ditonton ulang, terutama bagi yang haus inspirasi spiritual di tengah hiruk-pikuk modern. Skor rata-rata 7/10 dari review terkini menegaskan posisinya sebagai potret ulama yang tak hanya agung, tapi juga manusiawi—mengingatkan kita bahwa perubahan besar dimulai dari keyakinan pribadi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *