review-film-conclave-thriller-vatikan-penuh-intrik

Review Film Conclave: Thriller Vatikan Penuh Intrik

Review Film Conclave: Thriller Vatikan Penuh Intrik. Conclave yang tayang sejak akhir 2024 tetap menjadi salah satu thriller politik paling dibicarakan hingga awal 2026. Disutradarai Edward Berger (sutradara All Quiet on the Western Front), film ini mengadaptasi novel Robert Harris dengan Ralph Fiennes sebagai Kardinal Lawrence, Stanley Tucci sebagai Kardinal Bellini, John Lithgow sebagai Kardinal Tremblay, serta Isabella Rossellini sebagai Kardinal Sofia. Dengan durasi 2 jam dan budget sekitar US$40 juta, film ini sudah meraup lebih dari US$220 juta secara global. Rating Rotten Tomatoes mencapai 93% dari kritikus dan 89% dari penonton, serta skor tinggi di platform streaming. Cerita berfokus pada proses pemilihan Paus baru di balik pintu tertutup Vatikan, penuh intrik, rahasia, dan pertarungan kekuasaan. Apakah thriller Vatikan ini benar-benar memukau, atau hanya drama dialog yang bertele-tele? INFO CASINO

Atmosfer Ketegangan yang Menyesakkan di Film Conclave

Edward Berger berhasil menciptakan suasana yang sangat mencekam meski hampir seluruh cerita berlangsung di dalam satu lokasi—Sistine Chapel dan kamar-kamar rahasia Vatikan. Pencahayaan redup dari lilin dan asap dupa, suara langkah sepatu di lantai marmer, serta keheningan panjang sebelum setiap pengumuman suara membuat penonton merasa terkurung bersama para kardinal. Adegan hitung suara berulang kali dilakukan dengan sangat tegang—setiap kali asap hitam keluar (artinya belum ada Paus terpilih), ketegangan semakin naik. Musik Volker Bertelmann (Hauschka) menggunakan string rendah dan suara organ gereja yang minim tapi menekan, membuat setiap detik terasa berat. Visualnya sangat elegan dan dingin—jubah merah kardinal, lukisan dinding Sistine, dan tatapan mata para aktor senior jadi elemen yang memperkuat rasa intrik politik di balik kesucian gereja.

Performa Ralph Fiennes dan Ensemble Cast: Review Film Conclave: Thriller Vatikan Penuh Intrik

Ralph Fiennes sebagai Kardinal Lawrence memberikan penampilan terbaiknya dalam beberapa tahun terakhir. Ia bawa karakter yang bijak, netral, tapi perlahan terjebak di tengah intrik kekuasaan—ekspresi wajahnya dan cara bicara yang tenang tapi penuh beban terasa sangat meyakinkan. Stanley Tucci sebagai Kardinal Bellini yang liberal dan John Lithgow sebagai Kardinal Tremblay yang konservatif jadi rival yang sempurna—keduanya saling sindir dengan dialog tajam tapi tetap elegan. Isabella Rossellini sebagai Kardinal Sofia menambah dimensi baru—wanita pertama yang punya suara signifikan di konklave, dan performanya sangat kuat meski waktu layar terbatas. Ensemble cast ini terasa seperti teater kelas atas—setiap dialog penuh makna, setiap tatapan mata punya bobot. Tidak ada aktor yang mencuri peran; semuanya saling melengkapi untuk membangun ketegangan kolektif.

Kelemahan Pacing dan Orisinalitas: Review Film Conclave: Thriller Vatikan Penuh Intrik

Meski atmosfer dan performa kuat, film ini punya kelemahan di pacing yang sengaja lambat. Hampir seluruh cerita berlangsung di dalam ruangan tertutup dengan dialog panjang dan hitung suara berulang—bagi penonton yang harap aksi atau twist besar, bisa terasa membosankan. Twist akhirnya cukup mengejutkan tapi tidak seikonik seperti film thriller politik klasik seperti All the President’s Men atau The Lives of Others. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu setia pada novel dan kurang berani mengambil risiko artistik—beberapa adegan terasa seperti drama panggung yang difilmkan daripada sinema murni. Dibandingkan The Two Popes yang lebih emosional atau Spotlight yang lebih investigatif, Conclave terasa lebih dingin dan kurang punya “hati”.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia menyambut positif—film ini laris di bioskop premium dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal intrik Vatikan dan performa Ralph Fiennes. Box office US$220 juta (dengan proyeksi akhir US$300–350 juta) tunjukkan sukses komersial untuk film drama-thriller R-rated. Di media sosial, klip hitung suara dan tatapan mata para kardinal jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal politik internal gereja, kekuasaan, dan bagaimana institusi besar beroperasi di balik layar. Banyak yang bilang ini salah satu thriller politik terbaik dekade ini. Sekuel atau proyek serupa belum diumumkan, tapi film ini berhasil jadi bukti bahwa horor politik tanpa monster pun bisa sangat menyeramkan.

Kesimpulan

Conclave adalah thriller politik Vatikan yang berhasil jadi salah satu film paling mencekam tahun 2025. Ralph Fiennes dan ensemble cast tampil luar biasa, atmosfer ketegangan yang menyesakkan, dan dialog tajam bikin film ini layak ditonton berulang kali. Meski pacing lambat dan cerita kurang inovatif dibanding thriller klasik, film ini tetap jadi tontonan berkualitas tinggi yang penuh intrik dan makna. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka drama politik, intrik kekuasaan, dan performa akting kelas atas. Kalau suka The Two Popes, Spotlight, atau All the President’s Men, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan konsentrasi dan kesabaran, karena film ini tidak buru-buru dan tidak ingin buru-buru ditonton. Horor tanpa darah, tapi tetap bikin merinding—dan itu yang membuatnya spesial.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *