Review Film Heretic: Kultus yang Mematikan. Heretic tayang di bioskop pada 8 November 2024 dan segera menjadi salah satu film horor paling dibicarakan tahun itu. Disutradarai Scott Beck dan Bryan Woods (penulis A Quiet Place), film berdurasi 110 menit ini dibintangi Hugh Grant dalam peran yang sangat berbeda dari karakter rom-com biasanya, bersama Chloe East dan Sophie Thatcher sebagai dua misionaris muda Mormon. Cerita berpusat pada kunjungan dua gadis muda ke rumah seorang pria tampak ramah yang ternyata menyimpan agenda gelap berbau kultus dan eksperimen teologi. Dengan skor Rotten Tomatoes Certified Fresh 91% dari kritikus dan audience score 79%, Heretic dipuji karena pendekatan cerdas, dialog yang tajam, dan transformasi mengejutkan Hugh Grant menjadi sosok yang benar-benar menyeramkan. Ini bukan horor jumpscare biasa, melainkan thriller psikologis yang mengeksplorasi keyakinan, manipulasi, dan bahaya kultus dengan cara yang cerdas dan sangat mengganggu. REVIEW KOMIK
Alur Cerita dan Plot: Review Film Heretic: Kultus yang Mematikan
Dua misionaris muda, Sister Barnes (Sophie Thatcher) dan Sister Paxton (Chloe East), melakukan kunjungan rumah ke alamat terakhir dalam daftar mereka. Pemilik rumah, Mr. Reed (Hugh Grant), menyambut mereka dengan ramah, menawarkan teh dan kue, serta mengajak diskusi tentang agama. Awalnya percakapan terasa santai dan intelektual—Reed tampak sangat terpelajar dan sopan. Namun lambat laun topik bergeser ke pertanyaan yang semakin tajam tentang keyakinan, bukti, dan kontradiksi dalam ajaran Mormon yang mereka bawa. Ketika kedua gadis hendak pergi, Reed mengunci pintu dan mengungkapkan bahwa ini bukan kunjungan biasa. Ia memaksa mereka mengikuti “permainan” teologi yang ia rancang sendiri—sebuah eksperimen untuk membuktikan bahwa semua agama hanyalah rekayasa manusia. Film bergerak dari dialog panjang yang penuh teka-teki menjadi situasi terperangkap yang semakin mencekam, dengan elemen kultus yang semakin terlihat melalui ritual kecil, simbolisme, dan pengungkapan bertahap tentang ruang bawah tanah rumah Reed. Plot tidak mengandalkan monster atau kekerasan berlebih di awal, melainkan ketakutan psikologis dari isolasi, manipulasi, dan realisasi bahwa mereka menghadapi seseorang yang sangat percaya diri dengan keyakinannya sendiri. Meski beberapa bagian tengah terasa bertele-tele demi dialog, klimaks dan ending memberikan pukulan kuat yang tidak mudah dilupakan.
Pemeran dan Penampilan: Review Film Heretic: Kultus yang Mematikan
Hugh Grant adalah alasan utama mengapa Heretic begitu efektif. Ia meninggalkan image romantisnya sepenuhnya dan berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan—ramah, cerdas, berbudaya, tapi di balik itu ada kegelapan yang dingin dan sadis. Grant berhasil membuat penonton merasa tidak nyaman hanya dengan senyuman dan nada bicara yang terlalu sopan. Transformasinya sering disebut sebagai salah satu penampilan terbaik dalam kariernya. Sophie Thatcher (Barnes) dan Chloe East (Paxton) memberikan kontras yang sempurna: Thatcher sebagai misionaris yang lebih skeptis dan keras kepala, East sebagai yang lebih polos dan mudah terpengaruh. Keduanya berhasil membawa rasa ketakutan, kebingungan, dan perjuangan batin tanpa berlebihan. Chemistry mereka sebagai sahabat yang terjebak bersama terasa sangat nyata, membuat penonton ikut merasakan keputusasaan mereka. Secara keseluruhan, akting trio utama sangat kuat dan menjadi pendorong utama ketegangan film ini.
Elemen Horor Psikologis dan Kultus
Heretic adalah horor psikologis murni yang mengandalkan dialog, atmosfer, dan rasa terperangkap. Tidak ada monster, hantu, atau makhluk supranatural—ancaman utamanya adalah manusia yang terlalu percaya diri dengan ide-idenya sendiri. Reed adalah representasi kultus dalam bentuk individu: karismatik, manipulatif, dan sangat yakin bahwa pandangannya adalah kebenaran mutlak. Film ini cerdas dalam mengeksplorasi tema keyakinan buta, kekuatan persuasi, dan bahaya ketika seseorang menganggap dirinya lebih tahu dari orang lain. Adegan-adegan di ruang bawah tanah dan “permainan” teologi yang ia rancang sangat claustrophobic dan menekan. Penggunaan ruang sempit, pencahayaan redup, dan suara ambient yang minimal membuat penonton merasa sesak bersama karakter. Beberapa kritik menyebut film terlalu bergantung pada dialog panjang dan kurang kekerasan fisik di awal, tapi justru itulah yang membuatnya berbeda—horornya datang dari ketegangan intelektual dan rasa takut bahwa tidak ada jalan keluar. Endingnya tidak memberikan kenyamanan mudah, melainkan meninggalkan pertanyaan yang mengganggu tentang keyakinan dan manipulasi.
Kesimpulan
Heretic adalah horor psikologis yang cerdas, mencekam, dan sangat efektif, berhasil menjadikan Hugh Grant sebagai salah satu villain paling menyeramkan tahun 2024. Dengan pendekatan yang mengandalkan dialog tajam, atmosfer terperangkap, dan eksplorasi tema kultus serta keyakinan buta, film ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari horor mainstream. Meski beberapa bagian tengah terasa agak lambat demi membangun ketegangan, hasil akhirnya sangat memuaskan dan meninggalkan kesan yang kuat. Bagi penggemar thriller psikologis seperti The Invitation atau Midsommar versi lebih intim, ini adalah tontonan wajib. Skor keseluruhan: 8.5/10—kultus yang mematikan yang dibungkus dalam percakapan sopan dan senyuman dingin.
