Review Film Khanzab: Tragedi Dukun Santet di Banyuwangi. Film horor Khanzab (2025) garapan Rizal Mantovani langsung jadi salah satu karya paling kontroversial dan banyak dibicarakan sejak tayang di bioskop pada 7 November 2025. Dalam waktu kurang dari empat bulan, film ini berhasil menarik lebih dari 5,5 juta penonton dan terus memicu perdebatan panas di media sosial serta komunitas film hingga Februari 2026. Berlatar di Banyuwangi tahun 1998–1999, cerita terinspirasi dari tragedi pembantaian dukun santet yang mengguncang Indonesia kala itu. Dengan durasi 112 menit, film ini tidak sekadar mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu, melainkan membangun teror lewat rasa takut kolektif masyarakat, paranoia yang menjalar cepat, dan kekerasan massa yang lahir dari ketakutan irasional terhadap santet. Review ini mengupas makna utama cerita: tragedi dukun santet di Banyuwangi sebagai simbol histeria massa dan kekerasan yang timbul dari prasangka tanpa bukti. BERITA BASKET
Sinopsis dan Alur yang Mencekam: Review Film Khanzab: Tragedi Dukun Santet di Banyuwangi
Cerita berpusat pada sebuah desa terpencil di Banyuwangi di mana beberapa warga tiba-tiba jatuh sakit atau meninggal secara misterius. Tuduhan langsung mengarah ke seorang dukun tua yang hidup menyendiri (diperankan Reza Rahadian). Desas-desus menyebar cepat: “dia santet orang”, “dia kirim khanzab”, “dia kerja sama sama setan”. Alur bergerak lambat di awal untuk membangun rasa curiga dan paranoia melalui detail kecil—tatapan sinis tetangga, bisik-bisik di warung, dan suara gamelan yang tiba-tiba berhenti di malam hari. Ketegangan melonjak di paruh kedua ketika tuduhan berubah menjadi aksi massa: perusakan rumah dukun, kekerasan fisik, hingga pembakaran hidup-hidup. Rizal Mantovani pintar memainkan ekspektasi penonton: yang menakutkan bukan khanzab atau santetnya, melainkan manusia yang ketakutan hingga rela membunuh sesama atas dasar tuduhan tanpa bukti. Film ini berhasil menunjukkan bagaimana histeria massa bisa berubah jadi kekerasan nyata dalam hitungan hari, dengan akhir yang pahit dan terbuka—meninggalkan penonton dengan pertanyaan: siapa sebenarnya yang “berhantu” di sini?
Kekuatan Sinematik dan Makna Tragedi Dukun Santet: Review Film Khanzab: Tragedi Dukun Santet di Banyuwangi
Sinematografi film ini menggunakan palet warna gelap dengan dominasi hijau tua dan abu-abu untuk menciptakan rasa pengap dan terkurung khas desa Jawa di malam hari. Rumah panggung kayu, jalan setapak berlumpur, dan sawah yang sepi menjadi latar yang sangat efektif membangun atmosfer horor sosial. Tema tragedi dukun santet di Banyuwangi di sini bukan sekadar cerita mistis, melainkan rekonstruksi halus dari peristiwa nyata 1998–1999: ketika ratusan dukun dan orang yang dituduh santet dibunuh secara brutal oleh massa yang ketakutan. Film ini tidak menampilkan khanzab atau santet secara eksplisit sebagai “penjahat utama”, melainkan menunjukkan bahwa teror sebenarnya datang dari manusia sendiri—histeria, prasangka, dan kekerasan massa yang lahir dari ketakutan irasional terhadap hal-hal gaib. Rizal Mantovani juga menyisipkan kritik tajam terhadap budaya yang masih percaya santet sebagai penyebab segala masalah, serta bagaimana ketakutan itu bisa dimanfaatkan untuk membenarkan kekerasan. Performa Reza Rahadian sebagai dukun tua sangat kuat—ia berhasil menyampaikan rasa takut, kesedihan, dan ketidakberdayaan seorang yang dituduh tanpa bukti. Adegan klimaks di malam hari ketika massa datang dengan obor dan parang menjadi salah satu momen paling mencekam—menggabungkan elemen horor supranatural dengan horor sosial yang jauh lebih menyeramkan. Ending film yang terbuka membuat penonton terus memikirkan: apakah tragedi seperti ini benar-benar berakhir, atau hanya menunggu momen ketakutan berikutnya untuk terulang?
Dampak Budaya dan Relevansi di 2026
Sampai Februari 2026, Khanzab masih sering disebut sebagai salah satu horor Indonesia yang berhasil menggabungkan elemen mistis tradisional dengan kritik sosial yang tajam. Banyak penonton muda menggunakan cuplikan adegan massa yang marah atau dialog “santet itu cuma alasan buat benci” sebagai caption di media sosial untuk mengkritik histeria massa dan kekerasan yang lahir dari prasangka. Film ini juga kerap dijadikan bahan diskusi tentang tragedi Banyuwangi 1998–1999 dalam konteks modern—bagaimana cerita “santet” yang seolah “menakut-nakuti” sebenarnya menyimpan luka dan kekerasan yang sangat manusiawi. Di era di mana isu hoaks, histeria massa, dan kekerasan berbasis prasangka semakin sering terjadi, pesan film ini terasa semakin relevan: teror gaib sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari ketakutan dan kebencian yang kita ciptakan sendiri.
Kesimpulan
Khanzab bukan sekadar film horor yang mengandalkan teror gaib; ia adalah potret gelap tentang tragedi dukun santet di Banyuwangi sebagai simbol histeria massa dan kekerasan yang lahir dari ketakutan irasional. Rizal Mantovani berhasil mengemas cerita yang menyeramkan sekaligus mengajak penonton merenung tentang konsekuensi prasangka dan kekerasan yang tak terkendali. Di tengah Februari 2026, film ini masih relevan sebagai pengingat bahwa teror terbesar bukan selalu datang dari santet atau khanzab, melainkan dari manusia yang ketakutan hingga rela membunuh sesama tanpa bukti. Bagi siapa pun yang pernah melihat atau mendengar cerita tentang kekerasan massa atas dasar tuduhan gaib, film ini terasa seperti cermin: ya, tragedi itu nyata—dan kadang lebih mengerikan daripada apa pun yang bisa dibayangkan.

