Review Film Rashomon: Kebenaran yang Berubah-ubah

Review Film Rashomon: Kebenaran yang Berubah-ubah

Review Film Rashomon: Kebenaran yang Berubah-ubah. Rashomon karya Akira Kurosawa yang tayang pada 1950 tetap menjadi salah satu film paling revolusioner dan mendalam dalam sejarah sinema dunia. Berlatar di Kyoto abad ke-12 yang hujan deras, film ini mengisahkan satu kejadian pembunuhan seorang samurai dan pemerkosaan istrinya, diceritakan ulang dari empat sudut pandang berbeda: bandit Tajomaru (Toshiro Mifune), istri korban (Machiko Kyō), samurai yang tewas (melalui medium), dan kayu penebang yang menjadi saksi. Dengan durasi sekitar 88 menit, Kurosawa tidak hanya menyajikan cerita kriminal, melainkan pertanyaan filosofis besar tentang sifat kebenaran, kebohongan, dan bagaimana manusia memandang realitas. Hampir 75 tahun kemudian, di era ketika “post-truth”, deepfake, dan narasi alternatif semakin mendominasi diskusi publik, Rashomon terasa lebih relevan daripada sebelumnya—sebuah cermin yang menunjukkan betapa subjektifnya apa yang kita anggap “fakta”. INFO CASINO

Struktur Narasi yang Inovatif dan Mengguncang: Review Film Rashomon: Kebenaran yang Berubah-ubah

Yang membuat Rashomon benar-benar istimewa adalah strukturnya: satu kejadian yang sama diceritakan berulang kali, tapi setiap versi penuh kontradiksi. Tajomaru menggambarkan dirinya sebagai pemenang duel heroik, istri mengaku bertarung demi kehormatan, samurai melalui roh istrinya menyalahkan istrinya sendiri, dan kayu penebang memberikan versi yang paling “netral” tapi tetap tidak lengkap. Kurosawa tidak pernah memberikan versi “benar” secara eksplisit; ia membiarkan penonton merasakan kebingungan dan ketidakpastian. Teknik flashback yang berulang, transisi melalui hujan deras di gerbang Rashomon, serta penggunaan cahaya dan bayangan untuk mencerminkan kebohongan, menciptakan atmosfer yang tegang sekaligus kontemplatif. Kamera sering bergerak dinamis di hutan—daun bergoyang, matahari menyusup—seolah alam sendiri menjadi saksi yang tak bisa dipercaya. Pendekatan ini mengubah cara Hollywood dan dunia memandang narasi; sebelum Rashomon, film jarang berani meninggalkan penonton tanpa jawaban pasti.

Tema Kebenaran Subjektif dan Moral Manusia: Review Film Rashomon: Kebenaran yang Berubah-ubah

Inti Rashomon adalah bahwa kebenaran bukanlah sesuatu yang objektif, melainkan konstruksi yang dipengaruhi ego, rasa malu, kepentingan, dan keinginan untuk tampil baik di mata orang lain. Setiap karakter berbohong—bahkan kayu penebang yang tampak jujur akhirnya mengakui ia mengambil pedang—karena manusia cenderung merekonstruksi memori demi melindungi diri. Film ini tidak menghakimi; Kurosawa menunjukkan bahwa kebohongan adalah bagian dari kondisi manusia, terutama di tengah kekacauan sosial pasca-perang. Di akhir, ketika kayu penebang menemukan bayi yang ditinggalkan dan memutuskan membawanya pulang, ada secercah harapan: meski kebenaran sulit dicapai, tindakan kasih sayang tetap mungkin. Tema ini terasa sangat kontemporer di 2026, ketika polarisasi politik, berita palsu, dan perspektif subjektif di media sosial membuat orang sulit sepakat bahkan pada fakta dasar.

Warisan dan Pengaruh yang Luas Rashomon

memenangkan Golden Lion di Venice Film Festival 1951 dan membawa sinema Jepang ke panggung dunia, sekaligus mempopulerkan Kurosawa di Barat. Istilah “Rashomon effect” kini digunakan secara luas untuk menggambarkan situasi di mana saksi memberikan kesaksian bertentangan tentang kejadian yang sama—dari pengadilan hingga jurnalisme dan politik. Film ini memengaruhi banyak karya selanjutnya: dari The Usual Suspects hingga Gone Girl, serta serial seperti True Detective yang memainkan perspektif ganda. Restorasi 4K yang dirilis beberapa tahun lalu membuat detail hutan lebat, ekspresi wajah Toshiro Mifune yang liar, dan air hujan yang mengalir semakin hidup, dan penayangan ulang di bioskop arthouse serta festival terus menarik penonton baru. Di era digital sekarang, ketika setiap orang punya “versi sendiri” dari realitas, Rashomon menjadi pengingat abadi bahwa kebenaran sering kali tersembunyi di antara celah-celah cerita.

Kesimpulan

Rashomon adalah masterpiece Akira Kurosawa yang tak hanya mengubah bahasa sinema, tapi juga cara kita memahami kebenaran itu sendiri. Dengan narasi berlapis, visual yang indah sekaligus gelisah, dan pertanyaan filosofis yang tak pernah usai, film ini membuktikan bahwa seni bisa mengguncang tanpa perlu jawaban pasti. Hampir tujuh setengah dekade berlalu, kekuatannya tetap utuh—setiap kali ditonton ulang, penonton dihadapkan pada ketidakpastian yang sama: apa yang benar-benar terjadi, dan apakah kita pernah bisa tahu? Jika Anda belum pernah menonton, atau sudah lama tak menonton ulang, carilah salinan terbaiknya, duduklah di ruangan gelap, dan biarkan hujan di gerbang Rashomon membawa Anda ke pertanyaan yang tak pernah selesai. Ini bukan sekadar film klasik; ini adalah pengingat tajam bahwa di dunia yang penuh perspektif, kebenaran sering kali tetap kabur—dan itulah yang membuatnya begitu manusiawi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *