review-film-anchorman

Review Film Anchorman

Review Film Anchorman. Di akhir 2025, ketika meme lama kembali viral dan kutipan-kutipan absurd lagi membanjiri linimasa, Anchorman: The Legend of Ron Burgundy masih bertahta sebagai raja komedi paling bodoh sekaligus paling jenius di abad 21. Dirilis tahun 2004, film ini mengambil latar San Diego akhir 1970-an dan memperkenalkan dunia pada sosok penyiar berita macho, berjas ketat, dan berotak seukuran kacang: Ron Burgundy. Lebih dari dua dekade kemudian, dialog seperti “I’m kind of a big deal” atau “Boy, that escalated quickly” sudah jadi bahasa sehari-hari. Film yang awalnya dianggap terlalu gila oleh studio ini kini diakui sebagai salah satu komedi paling berpengaruh yang pernah ada. BERITA BOLA

Era Macho yang Diledek Habis-habisan: Review Film Anchorman

Anchorman berlatar di ruang redaksi televisi lokal yang dikuasai empat pria dewasa dengan ego sebesar kumis mereka. Ron Burgundy adalah bintang nomor satu, didampingi Brick si penyiar cuaca yang IQ-nya negatif, Champ si olahragawan penuh testosteron, dan Brian si reporter lapangan yang terlalu tampan untuk otaknya. Mereka minum scotch di kantor, berkelahi dengan stasiun saingan pakai trisula, dan menganggap perempuan di ruang berita sebagai ancaman eksistensial. Film ini menertawakan maskulinitas toksik era 70-an dengan begitu telak sampai terasa menyakitkan — tapi karena disampaikan lewat lelucon bodoh, semua orang tertawa, bahkan yang seharusnya tersinggung.

Kutipan yang Tak Pernah Mati: Review Film Anchorman

Sebagian besar kekuatan Anchorman ada pada dialognya yang 90% improvisasi. “60% of the time, it works every time”, “I immediately regret this decision”, “It’s so damn hot… milk was a bad choice” — baris-baris ini bukan cuma lucu, tapi langsung menempel di otak seperti lagu pop terburuk. Adegan perang antar geng penyiar, jazz flute solo di bar, sampai Sex Panther cologne yang bau seperti bensin dan kucing mati, semuanya jadi bahan meme abadi. Bahkan orang yang belum pernah nonton filmnya tahu setidaknya satu kutipan, dan itu prestasi langka untuk komedi.

Veronica dan Gelombang Baru

Masuknya Veronica Corningstone sebagai penyiar wanita pertama adalah katalis kekacauan sekaligus satire paling tajam. Ron yang tadinya menganggap wanita cuma cocok melaporkan resep kue tiba-tiba jatuh cinta, tapi egonya tetap nomor satu. Persaingan mereka, dari sabotase teleprompter sampai duel berita langsung, memperlihatkan betapa konyolnya perlawanan terhadap kesetaraan di tempat kerja. Lucunya, film ini tetap terasa relevan karena banyak kantor di dunia nyata masih punya Ron Burgundy versi kecil yang takut kehilangan takhta.

Ensemble yang Tak Terkalahkan

Keajaiban terbesar Anchorman adalah chemistry para pemainnya. Keempat anggota tim berita utama masing-masing punya momen bersinar: Brick yang membunuh orang dengan trisula sambil bilang “I love lamp”, Champ yang menangis karena kalah taruhan, Brian yang terlalu serius soal rambut. Cameo-cameo dadakan dari aktor komedi papan atas di adegan perang geng membuat film ini terasa seperti pesta besar yang kelewatan. Semua orang tampak bersenang-senang, dan kesenangan itu menular langsung ke penonton.

Kesimpulan

Anchorman bukan komedi pintar yang menyamar jadi bodoh — ia bodoh dengan sengaja, tapi bodoh yang dirancang dengan presisi bedah. Ia menertawakan berita televisi, seksisme, dan ego pria dengan cara yang masih terasa segar di 2025. Film ini membuktikan bahwa lelucon paling sederhana, kalau dieksekusi dengan komitmen total, bisa hidup selamanya. Kalau Anda butuh tawa keras di tengah tahun yang berat, nyalakan lagi film ini, volume maksimal, dan biarkan Ron Burgundy mengingatkan bahwa kadang hidup memang terlalu serius untuk dianggap serius. Stay classy.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *