Review Film Dear Nathan: Perjuangan Cinta Anak SMA. Film Dear Nathan (2018) karya sutradara Kuntz Agus tetap menjadi salah satu karya romansa remaja Indonesia paling ikonik dan sering ditonton ulang hingga awal 2026. Diadaptasi dari novel best-seller karya Erisca Febriani, film berdurasi 116 menit ini dibintangi Jefri Nichol sebagai Nathan dan Amanda Manopo sebagai Salma. Cerita berfokus pada perjuangan cinta dua siswa SMA di Jakarta yang harus menghadapi perbedaan latar belakang, tekanan keluarga, dan konflik moral di tengah masa remaja yang penuh gejolak. Meski sudah delapan tahun sejak rilis, Dear Nathan masih sering muncul di daftar “nostalgia SMA” dan “romansa remaja terbaik” di berbagai platform, terutama karena berhasil menangkap esensi cinta pertama yang polos sekaligus rumit di kalangan anak SMA Indonesia. INFO SLOT
Alur Cerita yang Relatable dan Emosional: Review Film Dear Nathan: Perjuangan Cinta Anak SMA
Nathan adalah siswa SMA populer, tampan, tapi punya masa lalu kelam dan sikap cuek yang membuatnya sulit didekati. Salma adalah siswi pintar, religius, dan berasal dari keluarga sederhana yang sangat menjaga nilai-nilai agama. Pertemuan mereka dimulai dari konflik kecil di sekolah, tapi lambat laun berubah menjadi ketertarikan yang dalam. Cinta mereka tidak mudah: Salma harus menghadapi tekanan keluarga yang menghendaki ia fokus belajar dan menjaga batasan, sementara Nathan berjuang melawan trauma masa kecilnya dan kebiasaan buruk yang melekat.
Konflik utama muncul ketika hubungan mereka mulai diketahui orang tua Salma yang sangat konservatif. Nathan yang awalnya cuek perlahan belajar bertanggung jawab dan berusaha menjadi lebih baik demi Salma. Film ini tidak menghindari isu sensitif seperti pergaulan bebas, pengaruh teman, dan tekanan remaja untuk “terlihat keren”. Endingnya bittersweet—tidak ada happy ending sempurna seperti drama remaja biasa, tapi justru memberikan pesan realistis bahwa cinta di usia SMA sering kali penuh perjuangan dan pengorbanan.
Penampilan Jefri Nichol dan Amanda Manopo: Review Film Dear Nathan: Perjuangan Cinta Anak SMA
Jefri Nichol sebagai Nathan memberikan penampilan yang sangat meyakinkan sebagai remaja laki-laki yang keras di luar tapi rapuh di dalam. Ia berhasil menampilkan transisi emosi dari sikap cuek menjadi seseorang yang rela berubah demi cinta. Amanda Manopo sebagai Salma tampil sangat natural sebagai gadis SMA yang polos, religius, tapi juga punya prinsip kuat. Chemistry keduanya terasa sangat autentik—terutama di adegan-adegan konflik keluarga dan momen-momen diam yang penuh makna.
Pemeran pendukung seperti Vanesha Prescilla (sebagai teman Salma) dan Jerome Kurniawan (sebagai sahabat Nathan) menambah warna cerita tanpa mencuri perhatian. Secara keseluruhan, cast muda ini berhasil membuat penonton merasa sedang menyaksikan kisah nyata anak SMA Jakarta di akhir 2010-an.
Tema Utama dan Pesan yang Relatable
Dear Nathan bukan sekadar cerita cinta remaja; ia menyoroti perjuangan anak SMA menghadapi cinta pertama di tengah tekanan keluarga, agama, dan lingkungan sosial. Tema utamanya adalah bahwa cinta sejati membutuhkan pengorbanan, kesabaran, dan kematangan—bukan hanya perasaan manis seperti di film. Film ini juga menyentil isu pergaulan bebas, pengaruh teman sebaya, dan pentingnya komunikasi terbuka dengan orang tua. Pesan “cinta itu bukan hanya soal perasaan, tapi juga tanggung jawab” tersampaikan dengan lembut tanpa terasa menggurui.
Pendekatan visualnya sederhana tapi efektif: warna-warna hangat di adegan romansa kontras dengan nuansa dingin di momen konflik. Adegan-adegan di sekolah, kafe, dan rumah terasa sangat Jakarta—relatable bagi penonton remaja dan dewasa muda.
Kesimpulan
Dear Nathan adalah film romansa remaja yang tulus, emosional, dan sangat relatable—menyajikan perjuangan cinta anak SMA dengan cara yang jujur dan tidak berlebihan. Penampilan Jefri Nichol dan Amanda Manopo terasa sangat alami, sementara arahan Kuntz Agus berhasil menangkap esensi masa remaja di Jakarta yang penuh mimpi dan rintangan. Film ini bukan tentang cinta sempurna; ia tentang bagaimana cinta pertama sering kali mengajarkan kita tentang pengorbanan, kesabaran, dan kematangan. Hingga 2026, Dear Nathan tetap menjadi referensi utama bagi siapa saja yang ingin mengenang atau memahami cinta remaja di era modern Indonesia. Bagi penggemar romansa seperti Dilan, Critical Eleven, atau My Boo, film ini adalah tontonan wajib yang penuh nostalgia sekaligus pelajaran hidup. Sebuah karya yang berhasil membuat penonton tersenyum, terharu, dan sedikit merenung tentang perjuangan cinta di usia muda.

