review-film-nightwatch

Review Film Nightwatch

Review Film Nightwatch. Di akhir 2025, film Nightwatch (1997) masih sering muncul di daftar rekomendasi thriller horor klasik 90-an yang underrated. Remake Amerika dari film Denmark Nattevagten (1994) karya sutradara yang sama, Ole Bornedal, film ini ikuti Martin, mahasiswa hukum yang ambil kerja malam sebagai penjaga morgue untuk bayar biaya kuliah. Saat kota diguncang pembunuhan berantai terhadap wanita dengan elemen nekrofilia, Martin mulai curiga dirinya diframe jadi tersangka. Dengan durasi sekitar 100 menit, film ini tawarkan ketegangan psikologis di setting sempit morgue, campur gore ringan dan twist yang bikin penasaran. BERITA BASKET

Plot dan Atmosfer yang Membuat Tegang: Review Film Nightwatch

Cerita berfokus pada Martin yang awalnya anggap kerja malam mudah—belajar sambil jaga mayat. Tapi saat mayat korban pembunuhan berantai tiba, hal aneh mulai terjadi: tantangan mengerikan dari teman, petugas koroner aneh, dan bukti yang arahkan polisi ke dirinya. Serial killer punya signature necrophilia yang disturbing, buat morgue terasa makin mencekam. Build-up lambat tapi efektif—fokus pada paranoia Martin saat ia sendirian di gedung gelap, dengan suara creak pintu laci mayat atau bayangan tak jelas. Twist identitas killer agak predictable bagi yang jeli, tapi tetap beri klimaks chase intens di koridor sempit. Film ini pintar mainkan red herring, meski beberapa terasa dipaksakan.

Akting dan Visual yang Menopang Cerita: Review Film Nightwatch

Pemeran jadi daya tarik utama: Ewan McGregor awal karier beri performa solid sebagai Martin yang polos tapi semakin paranoid, tunjukkan potensi besarnya. Josh Brolin sebagai teman nakal James beri energi liar yang bikin muak tapi menghibur, sementara Nick Nolte sebagai inspektur polisi tambah aura misterius. Visual morgue dingin, basah, dan remang ciptakan claustrophobia kuat—lampu neon berkedip, jarum suntik, dan mayat di laci beri rasa tidak nyaman alami. Gore tak berlebih, tapi adegan nekrofilia dan autopsi cukup graphic untuk beri chills. Musik minimalis dan suara ambient dukung atmosfer, mirip pengaruh Se7en tapi lebih intimate.

Kelebihan serta Kelemahan yang Terasa

Film ini unggul di mood eerie dan komentar halus soal god complex di dunia medis serta forensik. Tema framing innocent dan batas moral saat tak diawasi beri lapisan psikologis menarik. Namun, pacing kadang lambat di tengah, dialog agak kaku karena adaptasi, dan ending setelah reshot terasa abrupt serta kurang memuaskan. Sebagai remake, ia hilangin edge lebih gelap dari original Denmark—kurang outragous dan lebih Hollywoodized. Predictability killer serta plot hole kecil buat beberapa penonton kecewa, meski tetap entertaining sebagai thriller 90-an.

Kesimpulan

Nightwatch (1997) jadi thriller horor morgue yang atmosferik dan underrated di akhir 2025, dengan akting kuat dari cast muda saat itu serta ketegangan psikologis yang konsisten. Cocok buat penggemar film seperti Se7en atau remake horor Eropa yang fokus paranoia di lokasi terbatas. Meski tak sempurna—predictable dan pacing lambat—film ini tetap beri pengalaman mencekam yang sulit dilupain, terutama bagi yang suka horor tanpa banyak jumpscare murahan. Rekomendasi untuk malam sendirian, tapi lebih baik tonton original Denmark dulu untuk bandingin. Klasik kultus yang patut dihargai ulang.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *