Review Film The Gangster, the Cop, the Devil. Film The Gangster, the Cop, the Devil (2019) karya Lee Won-tae menjadi salah satu action thriller Korea Selatan yang paling seru dan unik di eranya. Terinspirasi dari kasus pembunuh berantai nyata, cerita ini ikuti aliansi tak terduga antara bos gangster, detektif keras kepala, dan pembunuh psikopat yang jadi musuh bersama. Dibintangi Ma Dong-seok sebagai gangster tangguh, Kim Mu-yeol sebagai polisi ambisius, dan Kim Sung-kyu sebagai devil sadis, film ini raih lebih dari 3 juta penonton di Korea dan pujian internasional. Hingga 2025, film ini tetap populer berkat aksi brutal, humor hitam, dan twist cerdas, bahkan dapat hak remake Hollywood dengan Sylvester Stallone. Thriller ini bukti Korea jago campur crime, aksi, dan satire tanpa kehilangan intensitas. BERITA BOLA
Plot dan Dinamika Karakter: Review Film The Gangster, the Cop, the Devil
Cerita dimulai saat bos gangster Jang Dong-soo diserang mendadak oleh pembunuh berantai misterius. Dong-soo selamat, tapi malu karena “wilayahnya” dilanggar. Detektif Jung Tae-seok, yang sudah lama incar Dong-soo karena kejahatan terorganisir, lihat peluang: paksa gangster kerja sama untuk tangkap pembunuh yang juga buruan polisi. Aliansi ini penuh ketegangan—dua musuh bebuyutan yang saling curiga, tapi terpaksa kolaborasi.
Plot berkembang cepat: investigasi paralel, chase mobil gila, dan konfrontasi brutal. Twist datang dari identitas devil dan motifnya yang tak terduga. Lee Won-tae jaga keseimbangan: aksi tak henti, tapi karakter punya motivasi jelas—Dong-soo ingin balas dendam demi harga diri, Tae-seok demi promosi, dan devil demi sensasi murni. Dinamika trio ini jadi inti: gangster dan cop yang sama-sama “jahat” dalam cara masing-masing, lawan devil yang benar-benar tak manusiawi.
Akting dan Chemistry Pemain: Review Film The Gangster, the Cop, the Devil
Ma Dong-seok dominan sebagai Jang Dong-soo: fisik besar, tatapan dingin, tapi punya humor kering yang bikin karakternya likable meski gangster. Ia bawa aura boss yang tak tergoyahkan, terutama di adegan pukul-pukulan yang ikonik. Kim Mu-yeol solid sebagai Jung Tae-seok: polisi frustrasi yang rela langgar aturan demi hasil, ciptakan chemistry lucu sekaligus tegang dengan Ma.
Kim Sung-kyu mencekam sebagai devil—ekspresi datar tapi mata gila, bikin penonton merinding setiap muncul. Trio ini punya chemistry kuat: adegan interogasi atau negosiasi penuh sindiran dan ancaman tersirat. Akting mereka buat film terasa hidup—tak ada overact, tapi emosi mentah yang bikin penonton ikut marah, takut, dan tertawa.
Arahan dan Elemen Teknis
Lee Won-tae, di film panjang keduanya, tunjukkan kendali matang: aksi realistis dengan koreografi pukul dan chase mobil yang bikin adrenalin naik. Sinematografi gelap dan hujan deras ciptakan atmosfer noir, sementara editing cepat jaga tempo tanpa bikin pusing. Skor intens dukung suspense, tapi humor hitam—seperti dialog sarkastik antara gangster dan cop—beri napas.
Film ini kritik halus pada polisi korup, dunia gangster, dan sensasionalisme media, tanpa jadi preachy. Kekerasan brutal tapi tak gratisan—setiap pukulan terasa sakit. Pada 2025, elemen teknisnya masih segar, terutama cara sutradara mainkan moral abu-abu tanpa pilih sisi.
Kesimpulan
The Gangster, the Cop, the Devil adalah action thriller cerdas yang campur kekerasan brutal, humor gelap, dan dinamika karakter tak terduga. Lee Won-tae ciptakan aliansi musuh yang seru, dukung akting top Ma Dong-seok, Kim Mu-yeol, dan Kim Sung-kyu. Film ini tak cuma hiburan—ia tanya soal moral di dunia hitam, di mana gangster kadang lebih “terhormat” daripada polisi. Wajib tonton bagi penggemar crime Korea yang suka aksi intens tanpa bosan. Pada akhirnya, film ini bukti bahwa kolaborasi tak terduga bisa hasilkan sesuatu yang luar biasa—seperti gangster dan cop yang akhirnya satu visi lawan devil sejati. Seru, tegang, dan bikin mikir sampai kredit bergulir.

